Serba-Serbi > Berita

KBRN, Jakarta: Selama 10 tahun terakhir, tarif air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jakarta tidak mengalami kenaikan. Akibatnya dana yang dibutuhkan untuk mengantisipasi kebocoran perpipaan yang menjadi keluhan warga masih minim hingga saat ini.

Untuk itu, PDAM Jakarta segera mengajukan kenaikan tarif air PDAM kepada Gubernur DKI Jakarta pada semester kedua tahun 2017. Direktur Utama PDAM Jakarta, Erland Hidayat, menyatakan kenaikan tarif ini akan mengubah struktur cross-subsidi.

Karena tarif air yang akan dinaikan diharapkan bisa menyasar masyarakat golongan menengah ke atas, agar masyarakat berpendapatan rendah bisa tetap disubsidi.

"Jadi harga air tertinggi tidak akan lagi Rp12.500, kalau bisa naik menjadi Rp14.500, supaya bisa mensubsidi masyarakat bawah dan bisa tetap murah," ujar Erland, kepada wartawan di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Kamis (13/4/2017).

Saat ini, setiap kelompok pelanggan air PDAM Jakarta memiliki harga yang beragam. Tarif paling murah sebesar Rp1.050 per meter kubik. Tarif golongan I itu berlaku untuk rumah, tempat ibadah dan asrama. Golongan II, yakni rumah sakit dan rumah susun dipatok harga Rp1.050-Rp1.575 per meter kubik.

Golongan III, yaitu kios dan rumah tangga menengah dipatok pada kisaran harga Rp3.350-Rp4.900, dan Golongan IV, yaitu perkantoran, kedutaan besar dan pabrik dipatok mulai dari Rp6.825-Rp12.550. Sementara, Golongan V, yaitu pelabuhan seharga Rp14.650 per meter kubik.

Erland berharap tarif atas seharga Rp12.500 bisa naik hingga 18%-20%. Dengan perhitungan itu, secara kelembagaan PDAM akan lebih sehat. Karena selama 10 tahun tanpa kenaikan tarif, PDAM lebih banyak menjual air di harga atas yang digunakan masyarakat golongan menengah ke atas, untuk menjaring penghasilan lebih banyak.

"Jumlah air baku kita berkurang. Jika air baku berkurang kita akan cenderung menjual dengan harga atas Rp12.500. Artinya, masyarakat berpendapatan rendah tidak kebagian air. Hal itu tidak benar jika terus dilakukan, makanya kita harus restrukturisasi," kata Erland.

Menurutnya, dengan memiliki pendapatan dari kenaikan tarif, PDAM akan memiliki dana untuk berinvestasi menangani kebocoran pada pipa-pipa yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

"Kalau yang bocor sudah dibenahi dan bisa diselamatkan, tapi air ini mesti dibawa ke tempat lain didorong pakai pipa. Dana untuk perpipaan itu dari mana? Makanya kita harus berpikir secara konsep ekonomi juga," tegasnya.

Sementara alasan tidak naiknya tarif air selama 10 tahun karena PDAM masih lebih kuat dikendalikan swasta. Namun, selama lima tahun terakhir swasta tidak diperbolehkan investasi di PDAM. (RBR/AKS)

Sumber http://www.rri.co.id/post/berita/381981/daerah/pdam_jakarta_segera_ajukan_kenaikan_tarif_air_ke_gubernur.html



Tweet




Copyright © 2015, PAM JAYA